Minggu, 04 April 2021

Abu Hudzaifah Bin Utbah Ra

Abu Hudzaifah bin Utbah adalah putra tokoh Quraisy, Utbah bin Rabiah. Ia memeluk Islam ketika orangtua dan saudara-saudaranya gencar-gencarnya memusuhi Nabi SAW, yakni sebelum Nabi SAW berdakwah di rumah Arqam bin Abi Arqam. Ia menikah dengan putri tokoh Quraisy juga, yakni Sahlan binti Suhail bin Amr, yang juga telah memeluk Islam ketika orangtuanya gencar memusuhi Islam. Mereka berdua sempat berhijrah ke Habasyah sampai dua kali karena kerasnya tekanan dan permusuhan dari kaum Quraisy, terutama orang tua mereka. Abu Hudzaifah termasuk Ahlu Badar, sementara itu orang tua dan saudara-saudaranya terbunuh dalam perang ini, namun demikian ia tidak mendendam kepada Hamzah dan Ali yang telah membunuh mereka. Hanya ketika mayat ayahnya dilemparkan ke sumur Badar seperti mayat orang-orang kafir lainnya, tampak perubahan di wajahnya, sehingga Nabi SAW bersabda, "Wahai Abu Hudzaifah, tampaknya engkau sedih dengan keadaan ayahmu tersebut?" "Tidak ya Rasulullah," Kata Abu Hudzaifah, "Aku tidak bimbang atas ayahku dan kematiannya, hanya saja aku pernah menyampaikan tentang kebenaran ini dan keutamaannya, sehingga aku berharap Allah memberinya hidayah kepada Islam." Perasaannya sempat bergolak, ketika sebelum dimulainya perang Badar, Nabi SAW berpesan agar mereka tidak membunuh Abbas bin Abdul Muthalib, paman Nabi SAW yang berada di pihak kaum musyrik. Maka terlontarlah ucapannya yang emosional, "Kami berperang untuk membunuh ayah-ayah, saudara-saudara dan keluarga-keluarga kami, tetapi dilarang untuk membunuh Abbas!! Demi Allah, sekiranya aku menjumpainya, aku akan menebasnya dengan pedangku…" Ucapannya ini disesalinya seumur hidup karena jelas telah menentang perintah Nabi SAW, dan itu membuatnya begitu semangat berjuang untuk memperoleh syahid sebagai tebusan ucapannya tersebut. Untungnya ia tidak bertemu dengan Abbas pada perang Badar tersebut, yang ternyata tertawan oleh seorang sahabat Anshar dan menyerahkannya kepada Nabi SAW. Ketika hijrah ke Madinah Nabi SAW mempersaudarakannya dengan Abbad bin Bisyr, dan mereka berdua syahid di peperangan Yamamah di masa khalifah Abu Bakar, yakni pertempuran dalam rangka menumpas nabi palsu, Musailamah al Kadzdzab.

Abul Haitsam At Tayyihan Ra

Abul Haitsam at Tayyihan adalah seorang sahabat Anshar yang berasal dari Bani Abdul Asyhal, suku Aus di Madinah, dan salah satu dari duabelas orang yang berba'iat pada Nabi SAW di Aqabah yang pertama. Pada tahun berikutnya, ia juga mengikuti rombongan 70 orang lebih yang akan menemui Nabi SAW di Makkah. Dalam pertemuan dengan Rasulullah SAW yang dikenal dengan Ba'iatul Aqabah kedua itu, Abul Haitsam berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya antara kami dan orang Yahudi ada kesepakatan perjanjian. Jika kami telah memutuskannya, dan tuan kembali kepada kaum tuan dan memerangi orang banyak, bagaimana dengan keamanan kami nantinya?" Nabi SAW tertawa mendengar penuturan ini, kemudian bersabda, "Darahmu adalah darahku, dan kehancuranmu adalah kehancuranku….!" Abul Haitsam sangat puas dengan pernyataan Nabi SAW yang singkat padat tersebut. Dan ini dibuktikan beliau setelah penaklukan (Fathul) Makkah dan perang Hunain, ketika saat itu orang-orang Anshar merasa khawatir karena mayoritas penduduk Makkah telah memeluk Islam, termasuk sebagian besar kerabat beliau, dan beliau sangat diterima untuk tinggal di Makkah. Beliau dengan tegas berkata kepada orang-orang Anshar, "Tempat hidupku adalah tempat hidup kalian, tempat matiku adalah tempat mati kalian…." Dan beliau bersabda juga, "…., kalau tidak karena hijrah, tentulah aku termasuk golongan orang-orang Anshar,….." Kembali pada Ba’iatul Aqabah ke dua tersebut, Abul Haitsam berpaling kepada kaumnya dan berkata, "Wahai kaumku, ini adalah Rasulullah, beliau berada dalam lindungan Allah SWT walaupun tinggal di antara kaum keluarganya. Jika kalian membawa beliau, maka orang-orang Arab akan bersatu untuk memerangi kalian. Jika kalian suka berperang di jalan Allah, rela kehilangan harta dan sanak keluarga karenanya, ajak beliau ke tempat tinggalmu karena sungguh beliau adalah Rasul yang sebenarnya. Tetapi jika kalian takut untuk memberikan pertolongan kepada beliau, sekarang saja kalian meninggalkannya…" Berdirilah seorang dari suku Khazraj, yakni Abbas bin Ubadah, dan berpidato kepada kaumnya seperti halnya Abul Haitsam. Mereka semua menyatakan kesediaannya untuk menerima dan mengorbankan apapun demi keselamatan dan perjuangan Nabi SAW dalam mendakwahkan Islam. Satu persatu mereka berba'iat kepada Nabi SAW. kepada 73 orang lelaki beliau menjabat tangan mereka, dan kepada 2 wanita hanya dengan perkataan.

Abdullah Bin Ummi Maktum Ra

Abdullah bin Ummi Maktum adalah seorang sahabat yang buta dari Bani Fihr. Proses pencariannya untuk memeluk islam tercatat dalam Al Qur'an, karena "menyebabkan" Allah SWT menegur Nabi SAW dengan turunnya Surah Abasa. Setiap kali Nabi SAW bertemu dengan Ibnu Ummi Maktum ini, beliau menyambutnya dengan hangat, dan menghamparkan surban untuk tempat duduknya sambil berkata, "Selamat datang wahai orang yang menyebabkan Tuhanku menegurku karenamu!" Tentu saja bukan maksud Abdullah bin Ummi Maktum membuat sikap yang menyebabkan beliau ditegur oleh Allah SWT. Suatu ketika hatinya terpercik hidayah Ilahi sehingga tergerak untuk mengikuti ajaran tauhid yang dibawa Nabi SAW, ia berjalan mendekati Rasulullah SAW yang sedang berkumpul dengan para pembesar Quraisy. Keadaannya yang buta menyebabkan ia tidak tahu kalau beliau sedang sibuk berdakwah, setelah dekat ia berkata kepada Nabi SAW, "Ajarkanlah kepadaku apa yang telah Allah ajarkan kepadamu, berikanlah aku bimbingan!" Nabi SAW yang sedang berbicara dengan pembesar Quraisy tidak menggubrisnya, tetapi terus berbicara dengan mereka, bahkan ada kesan terganggu dengan kehadiran Abdullah. Pada akhirnya, tidak seorangpun pembesar Quraisy tersebut yang menerima Islam, tetapi justru Abdullah menerima ajaran tauhid tersebut. Abdullah bin Ummi Maktum juga termasuk sahabat yang pertama-tama mengajarkan Al Qur'an kepada penduduk Madinah bersama Mush'ab bin Umair. Ia juga salah seorang muadzdzin Rasulullah SAW. Waktu puasa, beliau bersabda, "Sesungguhnya Bilal akan adzan di malam hari, maka makan dan minumlah kamu (untuk sahur) hingga Ibnu Ummi Maktum adzan…" Abdullah bin Ummi Maktum sendiri tidak akan adzan sampai dikatakan kepadanya bahwa waktu shubuh telah tiba.

Tsumamah Bin Utsal Ra

Tsumamah bin Utsal al Hanafi adalah pemuka dari Bani Hanifah dan salah seorang Raja Yamamah yang diakui kepemimpinanya oleh masyarakat jahiliah. Pada tahun 6 hijriah, Nabi SAW mengirim suratkepadanya untuk diseru kepada Islam. Tsumamah menerima surat Nabi SAW dengan sombong dan menghinakan, bahkan ia sesumbar akan membunuh beliau untuk menghentikan dakwah Islamiyah. Ia selalu mencari peluang dan kesempatan untuk bisa membunuh Nabi SAW dan para sahabatnya, karena itu beliau menghalalkan darahnya (yakni, kaum muslimin diperbolehkan membunuhnya) dan beliau mengumumkan hal itu secara luas. Suatu ketika Tsumamah berniat umrah ke Makkah, di perjalanan di dekat Madinah ia bertemu serombongan sahabat yang memang ditugaskan Nabi SAW untuk berjaga-jaga. Kedua pasukan terjadi bentrok, dan para sahabat tidak tahu kalau mereka adalah rombongan Tsumamah dari Yamamah. Pasukan Tsumamah dapat dikalahkan dan ditawan, kemudian diikat di tiang-tiang masjid untuk menunggu keputusan dari Nabi SAW. Ketika beliau datang ke masjid, beliau mengamati para tawanan, beliau bertanya kepada para sahabat, "Tahukah kalian, siapakah para tawanan ini?" Para sahabat menjawab kalau mereka tidak tahu. Maka Nabi SAW berkata, "Dia adalah Tsumamah bin Utsal al Hanafi, Raja Yamamah. Layanilah dia dengan baik…!" Walaupun sebelumnya Nabi SAW telah menghalalkan darah Tsumamah, tetapi beliau tidak memerintahkan para sahabat membunuhnya,bahkan memerintahkan untuk melayani diri dan pasukannya dengan baik. Sungguh cerminan akhlak yang mulia dan sifat Rahmatan lil ‘Alamin. Sepulang dari Masjid, Nabi SAW menemui para istrinya dan memerintahkan untuk mengumpulkan makanan yang dimiliki untuk melayani Tsumamah dan tawanan lainnya. Beliau juga memerintahkan beberapa sahabat untuk memerah susu untuk minuman mereka. Setelah para tawanan selesai menikmati suguhan yang diberikan, Rasulullah SAW mendatangi Tsumamah, dan beliau menanyakan keadaannya. Tsumamah berkata, "Keadaanku baik saja, wahai Muhammad, sekiranya engkau ingin membunuh, bunuhlah mereka yang telah melukai dan membunuh orang-orangmu. Dan sekiranya engkau ingin mengampuni, maka ampunilah orang yang tahu bersyukur. Dan sekiranya engkau ingin harta, kami akan memberikan sebanyak apa yang kau minta." Nabi SAW hanya tersenyum mendengar jawaban itu tanpa berkata apapun, kemudian meninggalkannya. Beliau membiarkannya dalam keadaan seperti itu selama dua hari, tetapi tetap memberikan hidangan dan minuman yang mereka butuhkan. Setelah dua hari itu, Nabi SAW menemui Tsumamah lagi dan bertanya, “Hai Tsumamah, bagaimana keadaanmu?" "Wahai Muhammad," Kata Tsumamah, "Aku tidak mempunyai keputusan lain, selain apa yang kusampaikan padamu tempo hari." Kemudian ia mengulang apa yang ia ucapkan sebelumnya, dan Nabi SAW meninggalkannya. Keesokan harinya, beliau mendatanginya lagi dan menanyakan keadaan dan keputusannya, tetapi Tsumamah tetap teguh dengan apa yang disampaikannya sebelumnya. Nabi SAW bersabda pada para sahabatnya, "Bebaskanlah Tsumamah dan berikanlah tunggangannya..!" Tsumamah-pun dilepaskan, ia berjalan ke luar kotaMadinah. Di suatu tempat dekat Baqi’ dimana banyak ditanami pohon kurma dan terdapat mata air, ia beristirahat dan membersihkan diri di mata air tersebut. Ia duduk merenung. Masih jelas tergambar di fikirannya, bagaimana aktivitas Nabi SAW dan para sahabat dalam tiga hari tersebut. Ia juga menyadari bagaimana beliau tidak membunuh atau menyuruh membunuhnya walaupun sebelumnya telah menghalalkan darahnya. Bahkan walaupun tertawan, beliau masih melayani kebutuhan makan minumnya dengan baik. Terbukalah pintu hatinya, dan hidayahpun menghampirinya. Ia kembali ke masjid, di depan para sahabat yang sedang berkumpul, ia dengan lantang mengucapkan dua kalimah syahadat untuk menyatakan keislamannya. Kemudian ia menghadap Nabi SAW dan berkata, "Ya Muhammad, Demi Allah, dahulu tidak ada wajah yang paling aku benci kecuali wajahmu, tetapi hari ini, wajahmu menjadi wajah yang paling aku cintai. Demi Allah, dahulu tidak ada agama yang paling aku benci kecuali agamamu, tetapi hari ini, agamamu menjadi agama yang paling aku cintai. Demi Allah, dulu tidak ada tempat yang paling aku benci kecuali tempatmu, tetapi hari ini, tempatmu adalah menjadi tempat yang paling aku cintai." Nabi SAW menyambut gembira keislaman Tsumamah. Ketika ia menanyakan tentang apa yang harus dilakukannya untuk menebus dosa-dosanya karena menyebabkan banyak musibah yang menimpa sahabat-sahabat Nabi SAW, beliau bersabda, "Tidak ada cercaan bagimu, hai Tsumamah, keislamanmu telah menghapuskan dosa-dosamu yang kau lakukan dalam masa jahiliah." Kemudian Nabi SAW memerintahkan para sahabatnya membebaskan tawanan lainnya, yang merupakan anggota pasukan dan kawan-kawan Tsumamah. Mereka semua akhirnya mengikuti jejak Tsumamah memeluk Islam. Tsumamah berkata, "Demi Allah, wahai Rasulullah, selama ini aku banyak memberikan kesusahan kepada sahabat-sahabatmu, jauh lebih hebat daripada yang dilakukan oleh orang-orang Quraisy, karena itu sejak saat ini, aku akan menyerahkan diriku, pedangku, dan orang-orang yang bersamaku untuk membantumu dan membantu agamamu." Nabi SAW menerima ikrar (ba’iat) yang disampaikan oleh Tsumamah dan pasukannya tersebut, dan beliau mendoakan mereka dengan kebaikan. Kemudian Tsumamah berkata lagi, "Wahai Rasulullah, aku dan pasukanku berniat untuk umrah ke Makkah ketika pasukanmu menangkapku, apakah aku harus mengurungkan niatku itu?" Nabi SAW melarangnya untuk membatalkan niat pelaksanaan umrah tersebut, hanya saja mereka harus melakukannya dengan tata cara yang sesuai tuntunan Allah dan RasulNya, dan Nabi SAW mengajarkan tata cara umrah menurut syariat Islam. Segera setelah itu Tsumamah dan pasukannya bertolak ke Makkah, dengan niat yang sama tetapi dengan jiwa dan semangat yang jauh berbeda dengan sebelumnya. Sampai di Makkah, rombongan umrah Tsumamah melantunkan talbiah sebagaimana diajarkan Nabi SAW dengan gegap gempita, dengan pedang dan persenjataan tersandang siap digunakan. Inilah pertama kalinya talbiah bergema menggetarkan kota Makkah. Tentu saja hal itu menarik perhatian rombongan umrah lainnya, dan kaum Quraisypun sebagai pengelola tanah suci menjadi marah. Mereka datang dengan pedang terhunus dan panah menghambur ke rombongan Tsumamah. Ketika hampir saja Tsumamah dan pasukannya yang siap siaga itu diserang dan ditangkap, tiba-tiba terdengar teriakan salah seorang Quraisy, "Celaka kalian! Tahukah kalian siapa dia? Dia adalah Tsumamah bin Utsal, Raja Yamamah. Demi Allah, jika kalian menangkap dan membunuhnya, kaumnya akan menghentikan bantuan makanan kepada kita, dan kita akan mati kelaparan." Mendengar peringatan tersebut, mereka batal menyerang, dan menghampiri Tsumamah dengan pedang masih terhunus, kemudian bertanya, "Apa yang terjadi denganmu, wahai Tsumamah, apakah engkau murtad dari agama nenek moyangmu?" "Tidak, aku tidak murtad, tetapi aku telah mengikuti sebaik-baiknya agama, yakni agama Muhammad," Kata Tsumamah dengan tegas, lalu melanjutkan, "Aku bersumpah Demi Tuhannya Ka'bah, setelah aku pulang ke Yamamah, tidak akan ada satu butir gandum yang sampai ke Makkah, sebelum kalian mengikuti agama Muhammad." Kaum Quraisy tak berkutik dengan ancaman tersebut, dan mereka membiarkan rombongan Tsumamah berumrah secara Islami. Ancaman Tsumamah ternyata bukan hanya gertak sambal, ia melakukan embargo makanan untuk kaum Quraisy, sehingga mengakibatkan penderitaan dan kesulitan makanan di Makkah, bahkan bencana kelaparan mulai menjadi-jadi. Tentu mereka amat berat untuk memeluk Islam seperti “persyaratan” yang diminta Tsumamah. Tetapi mereka menemukan pilihan lain, para pimpinan Quraisy datang ke Madinah, meminta tolong kepada Nabi SAW agar Tsumamah menghentikan embargo makanannya ke Makkah. Mereka meminta atas nama kekerabatan dan kemuliaan akhlak beliau, yang suka menolong dan menyambung silaturahmi. Nabi SAW pun menulis surat kepada Tsumamah untuk mengirimkan bantuan makanan lagi bagi penduduk Makkah. Setelah menerima surat Nabi SAW, Tsumamahpun langsung mematuhinya. Padahal sebenarnya ia menginginkan agar mereka memeluk Islam dahulu baru ia memberikan bantuan makanan itu. Tetapi kecintaan dan ketaatannya kepada Rasulullah SAW mengalahkan keinginannya sendiri. Makkahpun selamat dari bencana kelaparan. Ketika Musailamah al Kadzdzab mendakwahkan dirinya sebagai nabi di Yamamah, saat itu Nabi SAW masih hidup, Tsumamah menentangnya dengan keras. Musailamah yang juga pembesar Bani Hanifah itu akhirnya menjadi pemimpin dari orang-orang yang murtad sekaligus menjadi nabinya. Ketika Nabi SAW wafat, semakin banyak orang menjadi pengikutnya dan kekuatannya makin besar, Tsumamah-pun berseru lantang kepada kaumnya, "Hai Bani Hanifah, ini adalah perbuatan orang-orang yang dzalim. Kecelakaan besar dari Allah bagi orang-orang yang mengikuti Musailamah, dan ujian bagi orang yang tidak mengikutinya. Hai Bani Hanifah, tidak akan ada dua nabi dalam masa yang sama, dan tidak ada nabi lagi setelah Nabi Muhammad SAW." Kemudian Tsumamah bersama orang-orang yang masih teguh dengan keislamannya memerangi pasukan Musailamah, sehingga akhirnya ia syahid dalam memerangi nabi palsu yang masih kerabatnya tersebut.

Ka'ab Bin Malik Al Anshari Ra

Ka'ab bin Malik adalah salah seorang sahabat Anshar periode awal, karena ia telah berba'iat memeluk Islam di Aqabah, ketika Nabi SAW masih berada di Makkah. Ia tidak pernah tertinggal dalam berjihad bersama Rasulullah SAW, kecuali dalam perang Badar dan Tabuk. Tetapi ketertinggalannya dalam perang Tabuk merupakan musibah terbesar dalam hidupnya. Ketika Nabi SAW menyeru untuk berjuang ke Tabuk, keadaannya sebenarnya cukup lapang, kekuatan, kendaraan dan perbekalan yang mencukupi semuanya tersedia. Ketika pasukan muslim telah bersiap, ia meminta ijin kepada Nabi SAW untuk mempersiapkan perbekalannya, tetapi sesampainya di rumah, ia tidak segera melakukannya. Fikirnya, itu gampang dilakukannya karena semuanya telah tersedia. Esok paginya, ketika Rasulullah SAW dan pasukannya telah berangkat, ia akan bersiap-siap, tetapi lagi-lagi ia menundanya. Ia fikir, kalau ia berangkat sore harinya ia akan bisa menyusul rombongan pasukan Nabi SAW. Tetapi sorenyapun ia tidak bisa melakukannya, begitu juga dengan sehari dan dua hari berikutnya, niatnya untuk menyusul ke Tabuk tidak pernah kesampaian. Nabi SAW sendiri tidak pernah teringat akan Ka'ab kecuali ketika telah berkemah di Tabuk. Memang pasukan muslim saat itu sangat banyak, sekitar sepuluh ribu orang, sehingga kalau tertinggal satu dua orang mungkin tidak akan kelihatan. Tetapi tiba-tiba Nabi SAW bertanya, "Apa yang dilakukan Ka'ab saat ini?" Seorang lelaki dari Bani Salimah mengomentarinya dengan negatif, tetapi Muadz bin Jabal memotongnya, "Sungguh buruk yang engkau katakan, Demi Allah, wahai Rasulullah, kami tidak mengetahui tentang dirinya kecuali hanya kebaikan saja." Rasulullah SAW hanya diam mendengar komentar dua orang sahabat beliau yang saling berlawanan. Ka'ab bin Malik sendiri akhirnya menyesali keteledorannya sehingga tertinggal. Di Madinah tidaklah tinggal kecuali para sahabat yang memang mempunyai udzur untuk tidak berperang, baik karena kekuatannya atau karena tidak memiliki kendaraan dan perbekalan. Dan juga mereka yang tertuduh sebagai orang-orang munafik. Ketika rombongan Nabi SAW dalam perjalanan pulang ke Madinah, ia sempat berfikir untuk membuat alasan bohong agar terhindar dari kemarahan Rasulullah SAW, tetapi niat itu diurungkannya. Ketika Nabi SAW tiba di Madinah, seperti biasanya baliau langsung menuju masjid, shalat dua rakaat, kemudian duduk untuk menerima kunjungan. Orang-orang yang tidak menyertai beliau dalam peperangan, berdatangan untuk menyampaikan alasannya, ada yang memang benar-benar mempunyai udzur, tetapi ada juga yang dibuat-buat untuk menghindari kemarahan Nabi SAW. Yang terakhir ini ada sekitar 80 orang, termasuk orang-orang yang tertuduh sebagai munafik. Untuk mereka ini, Nabi SAW menerima alasannya secara lahirnya, dan secara batinnya diserahkan kepada Allah. Kemudian beliau memba'iat mereka dan memohonkan ampunan kepada Allah. Ketika Ka'ab mendekat, Nabi SAW melihatnya dengan senyum, senyuman orang yang biasanya menunjukkan sikap tidak puas atau sedang marah. Beliau memanggilnya dan bersabda, "Apa yang menyebabkan engkau tertinggal? bukankah engkau telah membeli kendaraan untuk perang?" Ka'abpun mengakui terus terang kelalaiannya sehingga tertinggal tanpa alasan yang benar. Ia juga mengatakan kalau sempat akan berbohong dengan alasan yang dibuat-buat, sekedar untuk menghindari kemarahan Nabi SAW, tetapi ia yakin hal itu akan mengundang kemurkaan Allah. Karenanya ia memilih berbicara jujur, walaupun dimarahi Allah dan RasulNya, tetapi ia masih bisa berharap untuk memperoleh ampunan Allah. Setelah memperoleh penjelasan panjang lebar dari Ka'ab, Nabi SAW bersabda, "Engkau berkata benar, bangunlah! Tunggulah hingga Allah memberikan keputusanNya kepadamu!" Ka'ab keluar dari masjid, beberapa orang dari Bani Salimah mengikutinya. Mereka mencelanya mengapa ia tidak membuat alasan saja sehingga tidak menimbulkan kemarahan Rasulullah SAW, apalagi selama ini ia belum pernah berbuat dosa. Karena celaan yang bertubi-tubi, sempat membuatnya menyesal telah berkata jujur, tetapi perasaan tersebut segera dibuangnya. Ia bertanya kepada mereka, "Adakah orang lain yang keadaannya sama denganku?" Mereka menjelaskan kalau ada dua orang, yakni Murarah bin Rabi dan Hilal bin Umayyah. Dua orang ini adalah lelaki salih yang menyertai perang Badar, dan juga menjadi panutan bagi sahabat lainnya. Hari-hari setelah itu adalah hari-hari yang menyesakkan dada bagi Ka'ab dan dua orang sahabat tersebut. Secara khusus Nabi SAW melarang orang-orang untuk berbicara dengan mereka bertiga, sehingga kaum muslimin selalu berusaha menjauhi ketiganya. Murarah dan Hilal hanya tinggal di rumah dan menangis karena merasa begitu hinanya, sementara Ka'ab masih berjamaah bersama Nabi SAW dan berkeliling di pasar walau tidak ada yang mengajak bicara. Makin hari keadaannya makin menyesakkan dada bagi Ka’ab karena ketidak-perdulian orang-orang di sekitarnya. Bahkan kemenakan kesayangannya, Abu Qatadah tidak mau menjawabnya. Ketika Ka'ab bersumpah bahwa ia sangat mencintai Allah dan RasulNya, Abu Qatadah hanya berkata, "Allah dan RasulNya lebih mengetahui!!" Ka'ab hanya bisa menangis mengenangkan keadaannya. Suatu ketika ia sedang berjalan di pasar, seseorang memberikan suatu suratyang terbungkus kain sutra. Suratitu ternyata dari Raja Ghassan, Jabalah bin al Aiham. Isi surat tersebut adalah sbb. : Amma ba'du, sesungguhnya telah sampai kabar kepadaku, bahwa sahabatmu telah menyakitimu, dan Allah tidak akan meletakkanmu di negeri yang hina, yang menyebabkan hilangnya hak-hakmu. Oleh karena itu, bergabunglah bersama kami, kami akan memberikan perlindungan kepadamu. Ka'ab menangkap maksudnya, yakni memintanya untuk meninggalkan Islam dan memeluk agama kristen, agama yang dipeluk raja Ghassan tersebut. Tentunya dengan iming-iming kebebasan dan kemewahan. Tetapi Islam telah merasuk ke dalam darah dan sum-sumnya, sehingga tidak mungkin ia meninggalkannya walaupun saat itu ia sedang menghadapi ujian yang amat berat, ujian kesabaran dalam keimanan. Ka’ab membawa surat indah bersampul sutra tersebut ke tempat pembakaran, dan memasukkan ke dalamnya. Cobaan itu ternyata belum selesai. Setelah empat puluh hari dalam suasana pengasingan, datang utusan Rasulullah SAW agar ia menjauhi istrinya, tetapi bukan menceraikannya. Iapun menyuruh istrinya kembali ke keluarganya untuk sementara waktu, sampai ada keputusan lebih lanjut. Begitu juga dengan Murarah dan Hilal, tetapi istri Hilal meminta dispensasi kepada Rasulullah SAW untuk tetap merawat Hilal karena ia sudah tua renta dan tidak memiliki pembantu. Nabi SAW mengijinkannya, dengan syarat jangan sampai mereka "kumpul". Kerabat Ka'ab menyarankannya untuk meminta dispensasi seperti Hilal, tetapi Ka'ab menolaknya. Pada hari ke limapuluh, setelah shalat subuh di atas atap salah satu rumahnya, ia duduk dengan keadaan sangat tertekan dan dadanya terasa sesak, tiba-tiba terdengar teriakan dari atas gunung Sal’un, "Hai Ka'ab, berita gembira untukmu!!" Ternyata setelah shalat subuh itu, Nabi SAW mengumumkan bahwa taubat ketiga sahabat tersebut telah diterima Allah. Seseorang langsung menunggangi kudanya menuju rumah Ka'ab untuk menyampaikan kabar gembira ini, dia adalah Zubair bin Awwam. Sedang seorang lelaki dari bani Aslam, yakni Hamzah bin Amr al Aslami, segera menaiki gunung Sal’un dan berteriak mengabarkan hal tersebut. Teriakan inilah yang lebih dahulu diterima dan diketahui oleh Ka’ab daripada kuda yang dipacu Zubair. Begitu Hamzah sampai di hadapannya, Ka'ab melepas dua lapis pakaian yang dikenakannya dan memakaikannya pada Hamzah sebagai tanda terima kasihnya. Padahal saat itu ia tidak mempunyai pakaian lain kecuali dua pakaian tersebut. Dengan meminjam pakaian pada orang lain, Ka'ab menuju ke masjid untuk menemui Nabi SAW. Sepanjang perjalanan orang-orang menyalaminya dan mengucapkan selamat padanya, iapun menyambutnya dengan sangat gembira. Begitu memasuki masjid, Thalhah bin Ubaidillah segera bangkit dan berlari kecil menyambutnya, memberi salam dan mengucapkan selamat. Sikap Abu Thalhah yang sangat antusias ini begitu mengesankan di hati Ka'ab sehingga ia tidak akan pernah melupakannya. Sampai di hadapan Rasulullah SAW, Ka'ab mengucapkan salam dan beliau membalasnya dengan wajah berbinar seperti bulan purnama, yang menandakan kegembiraan hati beliau. Nabi SAW bersabda, "Bergembiralah dengan sebaik-baiknya hari yang melewatimu sejak engkau dilahirkan ibumu!" Ka'ab menanyakan tentang penerimaan taubatnya tersebut, dari Allah atau keputusan Nabi SAW sendiri. Beliau menyatakan kalau semua itu langsung dari Allah, yakni dengan turunnya Surah at Taubah ayat 117-119. Makin gembiralah hati Ka’ab, dan sebagai bentuk syukur atas diterima taubatnya, Ka'ab menginfakkan seluruh hartanya di jalan Allah dan RasulNya. Tetapi Nabi SAW menyarankan agar ia menyimpan sebagiannya untuk keperluannya, dan Ka'ab hanya menyisakan bagiannya dari perang Khaibar.

Hilal Bin Umayyah Al Waqifi Ra

Suatu ketika Hilal bin Umayyah datang kepada Nabi SAW sambil mengadukan bahwa istrinya telah berzina dengan Syarik bin Syahma. Dengan tegas beliau bersabda, "Apakah kamu bisa mendatangkan saksi (sebanyak empat orang)? Jika tidak kamu mendapat Had (hukuman cambuk) di punggungmu!!" Dengan rasa keberatan, Hilal berkata, "Wahai Rasulullah, apabila seseorang dari kami melihat seorang laki-laki di atas istrinya, haruskan mencari saksi?" Tetapi Nabi SAW menegaskan bahwa begitulah yang diperintahkan oleh Allah, kemudian Hilal berkata, "Demi Dzat yang mengutusmu dengan benar, sesungguhnya saya benar, dan Allah akan menurunkan sesuatu yang akan membebaskan punggungku dari Had…" Tidak berapa lama berlalu, turunlah Jibril AS sambil membawa firman Allah surah an Nur ayat 6 - 9. Nabi SAW mengirimkan utusan untuk mendatangkan Hilal dan istrinya. Beliau menjelaskan tentang ayat yang baru turun menyangkut mereka berdua. Beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah mengetahui, salah seorang di antara kamu berdusta. Apakah ada di antara kalian yang akan bertobat…" Hilal bersaksi dan bersumpah tentang kebenarannya dirinya sebanyak empat kali, dan sumpah ke lima bahwa laknat Allah akan turun kepadanya jika memang ia berdusta. Giliran istrinya yang berdiri dan bersumpah, tetapi ketika akan bersumpah yang ke lima kalinya, ia sempat ragu dan melambat sehingga orang-orang berfikir ia akan berubah fikiran dan bertobat. Tetapi kemudian ia meneruskan sumpahnya dan berkata, "Saya tidak membuka aib kaumku pada seluruh hari…" Dengan adanya ketentuan tersebut, yakni bersumpah sampai lima kali, Hilal terbebas dari hukuman dera karena menuduh istrinya berzina tanpa empat saksi yang melihat perbuatannya. Begitupun dengan istrinya, dengan bersumpah sebanyak lima kali, ia juga terbebas dari hukuman rajam sampai mati walau mungkin ia benar-benar telah berzina. Dan urusannya akhirnya terserah kepada Allah, apakah Allah akan menurunkan laknatnya, sesuai dengan sumpah ke limayang diucapkan, atau Allah akan membukakan jalan taubat lain bagi dirinya. Setelah itu wanita tersebut pergi. Nabi SAW kemudian berkata, "Perhatikanlah istri Hilal, jika ia melahirkan anak yang bercelak kedua matanya, besar pantat dan kedua betisnya, maka anak itu adalah bagi Syarik bin Sahma (artinya, istri Hilal benar-benar berzina)." Ternyata wanita tersebut melahirkan anak seperti yang digambarkan Nabi SAW, dan beliau bersabda, "Seandainya tidak karena sesuatu yang telah lewat dalam Kitabullah Ta'ala (yakni ketentuan sumpah sampai lima kali tersebut), niscaya ada urusan antara aku dan wanita tersebut (yakni, istri Hilal tersebut akan dihukum rajam)." Setelah peristiwa tersebut, Hilal meminta ijin kepada Nabi SAW untuk menjatuhkan talak (menceraikan) kepada istrinya, dan beliau membolehkannya. Hilal bin Umayyah adalah salah satu dari tiga sahabat yang tertinggal dari perang Tabuk, yang mengakui dosa-dosanya. Taubatnya ditunda sampai 50 hari hingga Allah sendiri yang mengampuninya dengan surah Taubah ayat 117 - 118. Dua orang lainnya adalah, Ka'ab bin Malik dan Murarah bin Rabi'. Setelah 40 hari diasingkan dari pergaulan kaum muslimin lainnya, Nabi SAW memerintahkan agar Hilal menjauhi istrinya (tetapi bukan menceraikannya). Istrinya ini, yang dinikahinya setelah menceraikan istri sebelumnya yang dituduhnya berzina, datang kepada Nabi SAW meminta ijin beliau untuk tetap merawat Hilal karena ia sudah tua dan lemah, serta tidak memiliki pembantu. Beliau mengijinkannya tetapi dengan syarat tidak sampai "kumpul". Istrinya menjamin hal itu takkan terjadi, karena hari-hari Hilal sejak ketertinggalannya dalam perang Tabuk tersebut hanya dilalui dengan menangis dan penyesalan tiada henti.

Auf Bin Abu Hayyah Al Ahmasi Ra

Auf bin Abu Hayyah al Ahmasi, atau nama kunyahnya Abu Syubail, mengikuti suatu pasukan yang dipimpin oleh Nu'man bin Muqarrin, pasukan yang dikirim oleh Khalifah Umar untuk mendukung/memperkuat pasukan muslim pimpinan Mughirah bin Syu’bah, yang sedang berperang melawan tentara Persia di Ashbahan. Dalam pertempuran tersebut, Auf berpuasa sebagaimana kalau ia berpuasa pada saat di rumah, yakni ia menjaga amalan istiqomah puasanya walau sedang bertempur. Ketika pertempuran usai dan kemenangan diperoleh pasukan muslim, ia ditemukan dalam keadaan luka parah dan hampir sekarat. Seseorang membawakan air untuk diminum, tetapi ia menolak dan mempertahankan puasanya hingga waktu berbuka. Tetapi sebelum waktu berbuka tiba, ia telah meninggal. Ketika utusan Nu'man menghadap Umar untuk melaporkan pertempuran tersebut, ia menyebutkan nama-nama yang telah gugur dalam syahid dan juga adanya orang-orang yang tidak dikenalinya. Umarpun menyahut, "Tetapi Allah mengenali mereka!" Mereka juga menyebut tentang "seorang lelaki yang telah menjual dirinya", yang dimaksud adalah Auf bin Abu Hayyah, yang juga gugur karena menolak minuman yang ditawarkan karena mempertahankan puasanya, padahal saat itu ia dalam keadaan luka parah dan hampir sekarat. Mudrik bin Auf al Ahmasi, keponakan dari Auf bin Abu Hayyah, yang ketika itu berada di samping Umar berkata, "Wahai amirul mukminin, Demi Allah orang banyak telah mendakwa pamanku (yakni Abu Syubayl) mencampakkan dirinya dalam kebinasaan!!" Khalifah Umar dengan tegas berkata, "Mereka keliru, akan tetapi ia telah membeli akhirat dengan dunianya!"

Abu Hudzaifah Bin Utbah Ra

Abu Hudzaifah bin Utbah adalah putra tokoh Quraisy, Utbah bin Rabiah. Ia memeluk Islam ketika orangtua dan saudara-saudaranya gencar-gencar...